Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

Review Buku: Bidadari Tak Suci

Assalamu'alaikum semuanya, selamat pagi, sore dan malam sesuai dengan waktu teman-teman membaca tulisan saya ini :D.


Oke, kali ini saya akan menuliskan review buku novel "Bidadari Tak Suci" yang ditulis oleh Fissilmi Hamida. Buku ini diterbitkan oleh Nea Publishing pada tahun 2020. Buku yang saya baca ini merupakan cetakan yang ke-3 dengan jumlah 320 halaman. Tidak begitu tebal bagi kamu yang menyukai membaca buku. Oke langsung saja masuk ke bagian review buku.


Review buku (saya menggunakan bahasa bebas agar tidak terkena coppyright, namun tidak jauh dari isi buku yang sebenarnya)

Kembang Mayang namanya, seorang gadis yang berprofesi sebagai asisten rumah tangga. Pekerjaan yang merupakan sumber penghasilan utama ini Ia gunakan untuk membantuk mencukupi kebutuhan orang tuanya di desa. Namun malang tak dapat dihindar, kejadian yang menyakitkan menimpanya, sehingga memaksanya untuk kembali ke kampung halaman dengan berbadan dua.


Seluruh warga, tua muda mencemooh, memojokkan, menganggap Ia pendosa yang hina, bahkan tak segan-segan melukainya. Orang tua Mayang pun tak menerima keadaan sang anak yang telah mencoreng kehormatan mereka. Pun ketika Mayang mengaji, hinaan demi hinaan Ia terima. Ia yang tidak suci dianggap tidak pantas untuk mengaji lagi. Dan akhirnya seorang ketua RT beserta istrinya dengan suka rela dan senang hati menyediakan tempat tinggal untuk Mayang. Mereka menganggap Mayang anak mereka sendiri, tersebab anak mereka merupakan teman bermain Mayang saat kecil.


Semua orang di desa penasaran siapa ayah dari si jabang bayi yang dikandung oleh Mayang. Sampai kemudian tibalah waktu kelahiran. Seorang bayi tampan dengan mata kehijauan dan rambut keemasan membuat geger warga desa. Oleh pak RT bayi mungil itu diberi nama Seno Aji. Seluruh warga penasaran bagaimana rupa dari bayi bule tersebut. Mereka yang semula datang mengecam, kini mereka ngantri untuk melihat wajah tampan anak Mayang.


Demi melihat tampang sang bayi, gunjingan warga desa kian menjadi. Pak RT pun meminta warga desa untuk berkumpul di balai desa. Ia ingin menjelasan kepada warga desa siapa ayah dari sang bayi sebenarnya. Hal yang harus Ia lakukan, agar Mayang bisa terlepas dari prasangka dan kejahatan warga.


Setelah semua warga berkumpul, Pak RT mulai menjelaskan asal usul dari sang bayi yang ternyata merupakan anak hasil dari korban pem******. Semua warga kini bersimpati dan iba, meminta maaf atas apa yang mereka lakuan, termasuk kedua orang tua Mayang yang kemudian bisa menerimanya dengan rasa simpati serta rasa sedih yang tak terkira.


Oscar William Dexter merupakan majikan yang telah melakukan pem****** itu. Tersebab pengaruh alkohol yang Ia minum, Ia mengira jika Mayang yang saat itu mencoba pakaiaan pemberian Clara, merupakan istrinya. Sehingga terjadilah hal yang memilukan.


Menjadi buruh di sawah Mayang lakukan demi mencukupi kebutuhan sang anak yang kini sudah beranjak besar. Namun pekerjaan itu ternyata tidak mencukupi kebutuhan untuk keluarganya. Hingga akhirnya Ia menerima tawaran untuk bekerja sebagai pembantu kembali di Jogja. Ia akan bekerja menemani sang majikan yang lumpuh tidak bisa berjalan.


Alexander merupakan majikan baru Mayang yang lumpuh akibat kecelakaan. Lara sang majian kian besar akibat kehilangan sang istri dan anak sekaligus dalam kecelakaan tersebut. Hal yang membuat Ia terpuruk dengan keadaan. Semangat hidupnya kian redup.


Beberapa bulan setelah bekerja di majikan baru, Seno Aji ingin mampir ke tempat kerja sang ibu. Pak RT dan sang istri yang ingin mengunjungi anak mereka yang kuliah di Jogja ingin mengajak Seno serta untuk bertemu dengan ibunya. Sebagai seorang majikan yang telah kehilangan anak, kehadiran Seno ternyata mampu mengobati sedikit rasa sepi yang Alexander rasakan. Seno dan Alexander kemudain saling menyanyangi, termasuk kini Alexander mulai menyimpan rasa dengan Mayang.


Bagaimana ending dari cerita ini? Apakah Mayang akan menikah dengan Alexander ataukah malah menikah dengan Oscar? Teman-teman bisa membaca langsung bukunya ya.


PoV


Menurut saya novel ini recomended untuk dibaca. Bagi kamu yang suka membaca novel, judul buku ini bisa masuk dalam list buku yang akan dibaca. Buku ini sangat menarik, bahkan saya menamatkan buku ini kurang dari 12 jam:D.


Maaf saya tidak mereview sampai tuntas. Semoga spoiler tentang buku ini akan menambah rasa penasaran teman-teman tentang buku sebenarnya yang sangat jauh lebih lengkap, lebih baik, dan lebih mendebarkan jika dibandingkan dengan sinopsis yang 'seuprit' ini. 


Membaca buku secara langsung merupakan cara kita menghargai penulis. Penulis yang telah menuangkan ide, gagasan, waktu, tenaga dan semuanya yang membuat tulisan ini hadir di tangan kita. Agar para penulis lebih semangat dalam berkarya yang karyanya bisa dinimati oleh masyarat pembaca.
Jika teman-teman ingin membeli bukunya, bisa langsung pesan melalui instagram Neapublishing. Happy reading.

Review Film: Ranah 3 Warna

Assalamu'alaikum semuanya. Setelah kemarin saya menulis cerpen perdana, kali ini saya akan mereview film yang berjudul 'Ranah 3 Warna' yang diangkat dari judul buku yang sama karya A. Fuadi.
Film ini merupakan trilogi dari buku Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, dan Rantau 1 Muara. Karya pertama juga difilmkan beberapa tahun yang lalu. Film Ranah 3 Warna mulai tayang di bioskop tanggal 30 Juni 2022.


Review
Film dibuka dengan menampilkan dua orang anak laki-laki yang mengobrol di tepi sebuah danau (Danau Maninjau kalau di novel).
'Mau kuliah di mana setelah lulus Pesantren?' tanya Randai 'kamu kan tidak punya ijazah SMA, mau ikut SMPTN pakai apa?.' Tawanya mengejek Ali.

'Kalau aku berusaha ya bisa.' jawab Alif dengan nada tinggi, kesal melihat tampang songong Randai yang saat itu sudah di terima kuliah di Institut Teknologi Bandung.
 

Sementara beberapa anak laki-laki lain yang berada di atas pohon menyahut '' Jadi guru ngaji saja lif, ngga usah kuliah.' yang lainnya juga menambahkan 'atau jadi nelayan saja lif' mereka tergelak bersama kecuali Alif.


Tidak mendapatkan ijazah saat lulus dari Pesantren, membuat Alif harus berjuang keras untuk mengikuti ujian paket C yang kemudian dilanjut dengan ujian SMPTN. Berbekal tekat kuat, kerja keras untuk belajar materi-materi pelajaran yang belum pernah Ia dapatkan membuatnya berjibaku dengan buku-buku.


Sebuah bus Harmoni yang dinanti tak kunjung datang. Pasalnya pengumuman ujian SMPTN dimuat di koran, sang ayah pesankan ke pak sopir yang datang dari kota. Lama yang ditunggu kemudian datang, satu per satu nama diperiksa, namun tak jua mereka menemukan nama Alif pada daftar mahasiswa yang diterima. Merasa bahwa Alif tidak diterima, sang ayah memberikan koran sepenuhnya ke Alif.


'Kita pulang saja' Sang Ayah terlihat tidak bersemangat.
Alif masih mencoba memeriksa koran tersebut
'Ayah, masih ada halaman yang belum kita periksa' Ia berteriak mencegah ayahnya berjalan lebih jauh lagi.
 

Bersama-bersama mereka memeriksa halaman tersebut dan ternyata nama 'Alif Fikri' tertera. Serentak mereka melakukan sujud syukur di tepi jalan raya, tempat mereka menunggu bis Harmoni yang terbiasa lewat.


Perjalanan Alif menuju Bandung untuk melanjutkan kuliah di Universitas Diponegoro pun dimulai, Ia mengambil jurusan Hubungan Internasional. Sang ayah membekalinya sebuah sepatu yang didapatkan dari menjual motor butut satu-satunya yang Ia miliki. Perpisahan yang mengharukan terjadi. Sang ayah memeluk Alif sangat lama sekali, seperti merasakan bahwa itulah pelukan terakhir untuk anaknya. Sang ibu juga berpesan "Di mana bumi di pijak, di situ langit dijunjung. Berbuat baiklah di tempat lain."
 

Sebuah payung berwarna merah tiba-tiba terlempar menghampiri Alif. Hujan yang cukup deras membuatnya ingin memakai payung tersebut. "Itu payung saya" sebuah suara perempuan membuatnya mendongakkan kepala. Perempuan yang kemudian Ia kenal dengan nama Raissa.


Sebuah majalah kampus menjadi tujuan Alif untuk bergabung dengan kelompok Unit Kegiatan Mahasiswa tersebut. Berbekal dengan kemampuan yang Ia miliki saat masih menimba ilmu di Pondok Madani. Ia pun memberanikan diri mendaftar.


"Kamu yakin mau menulis?" Bang Tohar pimpinan dari unit tersebut bertanya tanpa menatap Alif yang sudah duduk di ruangan.
"Saya ingin pergi ke Amerika Bang, seperti foto Abang itu" tangannya menunjuk foto  Bang Tohar yang terpampang di atas lemari. Sebuah foto yang memiliki daya tarik bagi Alif
"Itu bukan Amerika, itu Australia."
"Iya bang, saya ingin ke luar negeri."
"Baiklah aku akan melihat kemampuanmu. Sekarang kamu bisa menulis di sini."
"Sekarang bang?" Alif mencoba meyakinkan
"Ya sekarang, mau besok?"


Alif mulai menulis pada sebuah lembar kertas, yang kemudian mendapatkan predikat tulisan 'sampah' oleh Bang Tohar. Ia pun diberikan kesempatan lagi untuk menulis, namun harus menggunakan referensi yang tepat sehingga tulisan itu nantinya tidak hanya terbit di majalah kampus melainkan media cetak. Kesungguhan dan usaha keras Alif membuahkan hasil. Tulisannya kini dimuat di koran.


Sebuah telegram datang, mengabarkan bahwa sang ayah sakit keras. Ia akhirnya memutuskan untuk pulang sementara waktu. Takdir tak dapat dielakan lagi, sang ayah akhirnya meninggal dunia meninggalkan keluarga mereka. Demi melihat sang ibu yang berjuang keras mencukupi kebutuhannya dan adik-adik, Alif berencana untuk tidak melanjutkan kuliah yang tengah Ia jalani. 


"Ayahmu itu selalu menenteng tulisanmu ini ketika bertemu dengan teman-temannya. Ia merasa bangga dengamu Lif." Sebuah potongan koran terpampang di sebuah figora. Tulisan Alif di dalamnya.
"Ibu bisa bekerja keras kebutuhan kalian atau ibu juga bisa berhutang ke siapapun untuk mencukupi kebutuhan kalian. Jadi jangan berhenti Lif. Selesaikan apa yang sudah kamu mulai."


Segala macam pekerjaan Alif lakukan untuk membantu biaya kuliah dan kebutuhan adik-adiknya di rumah. Mulai dari menjadi pelayan di rumah makan dan berjualan kain khas Padang yang Ia jual di ibu-ibu PKK. Malang tak dapat dihindar. Ia mendapatkan perampokan, semua barang dan uang yang Ia bawa ludes.


Hal ini yang menjadikan Alif berada pada titik terendah hidupnya. Ia mulai kalut dengan apa yang terjadi. Nelangsa hidupnya semakin memuncak. Ditinggal pergi sang ayah dan kesialan yang dialami membuatnya tidak semangat menjalan hari-harinya. Ia putus asa.



Raissa mencoba membujuk Alif untuk kembali kuliah. Namun Ia masih bergeming. Bang Tohar kemudian memberikan sepucuk surat kepada Alif saat Ia berkunjung ke Unit Bang Tohar. Ia baca, air matanya kemudian mengalir. Itu adalah sebuah surat yang ayahnya kirimkan langsung ke Bang Tohar. Sebagi bentuk terima kasih telah mau menerima Alif menulis di tempatnya. Sejak saat itu Alif bersemangat kembali untuk memperjuangkan apa yang Ia cita-citakan.


Waktu terus berjalan, sebuah informasi pertukaran pelajar sedang diadakan.
"Wah bagus sekali ini Lif, kamu mau ikut ini ngga?" Rusdi teman Alif mengambil sebuah selebaran yang menempel di dinding kos mereka.
"Kemana?" tanya Alif tidak bersemangat.
"Kanada"
"Ngga tertarik. Aku maunya ke Amerika bukan ke Kanada."
"Kamu bagaimana sih. Kanada kan bagian dari benua Amerika" tergelak Rusdi menertawakan tanggapan dari Alif.


Setelah melalui seleksi ketat, Alif, Raissa, dan Rusdi akhirnya menjadi bagian dari mahasiswa yang menerima kesempatan untuk pertukaran pelajar. Jordan menjadi tempat mereka transit untuk beberapa saat. Di sana ternyata Alif bertemu dengan ust. Salman yang merupakan gurunya saat di pesantren dulu.
Sang ustadz membawa ALif, Rusdi dan Raissa pergi ke barak pengungsi. Di sana mereka membagikan bantuan. Saat akan kembali seorang Ibu menangis meminta dicarikan anaknya yang terpisah kepada Raissa. Selembar foto menjadi petunjuk bagaimana rupa anak yang Ia cari tersebut. 


Sebuah bom terdengar ketika rombongan Alif beranjak dari barak. Rentetan senopi tak kalah mengagetkan mereka. Sebuah peluru tiba-tiba merangsek mengenai tepat kepala salah satu relawan yang ikut di dalam mobil. Raissa menangis ketakutan. Kejadian yang baru saja mereka alami membuat agenda mereka di Jordan dipercepat.


Kanada menjadi tujuan utama dari kegiatan pertukaran perlajar itu. Alif ditempatkan di sebuah lokasi peternakan. Tempat yang sangat tidak Ia sukai, Ia ingin bekerja di dunia pertelevisian meliput berita seperti Raissa, atau Rusdi di pemerintahan. Nyatanya sudah terbang jauh ke Kananda, Ia hanya mendapatkan kesempatan membersihkan kandang dan memberi makan ternak.


Setelah beberapa waktu berlalu, Alif memutuskan untuk mundur daripada harus terus berurusan dengan kotoran sapi. Segera Ia pergi pertemu si pemilik, tak sengaja Ia mendengar jika peternakan akan segera disita. Ia yang merasa kasihan dengan pemilik peternakan tak berani lagi mengajukan mundur dari aktivitas yang telah ia lakukan sejak datang meskipun akhirnya Ia tahu jika posisinya tertukar oleh Francois Pepin. Seharusnya Ia yang berada di dunia pertelevisian, namun Ia masih tidak  mau bertukar tempat. Ia sudah bisa menerima.


Untuk mencegah disitanya lahan peternakan, Alif meminta Raissa dan Pepin untuk mewancarai pemilik. Setelah tayangan wawancara mereka mengudara, peternakan tersebut tidak jadi disita. Yang lebih mengagumkan lagi ternyata pemilik peternakan mengenal seseorang yang ada di foto yang mereka miliki. 


Diantarkan oleh Pepin, Raissa dan Alif akhirnya pergi ke rumah orang yang telah mengadopsi Laila, gadis yang mereka cari selama ini. Gadis yang sangat di rindukan ibunya, yang mampu mereka temukan melalui selembar foto yang Raissa dapatkan di barak pengungsian.


Long story short. Mereka akhirnya lulus dari perkuliahan. Alif melanjutkan hidupnya dengan menjadi seorang wartawan. Sedangkan Raissa dan Randai melanjutkan hidup mereka di Jepang. Mereka berencana menikah dan melanjutkan kerja serta kuliah di sana. Film pun ditutup dengan seorang wanita yang menggandeng tangan Alif di sebuah gedung putih Amerika.


**

PoV
Menurut saya, buku asli memiliki cerita yang lebih komplek. Banyak bagian yang diganti, yang mungkin menyesuaikan dengan durasi film dan kesesuaian cerita. Meskipun inti dari film masih sama dengan buku, namun ada baiknya kita juga membaca bukunya jika ingin mendapatkan cerita yang sebenarnya

Review Buku: Hijrah Ektrem

 Assalamu'alaikum, kembali lagi dengan topik review buku. Kali ini saya mereview buku dengan judul 'Hijrah Ekstrem'. Sesuai dengan judulnya, buku ini memang benar-benar 'ekstrem', seperti jalan cerita dalam dunia persinetronan yang penuh dengan drama. Bahkan begitu dramanya perjalanan kehidupan Penulis, Ia menambahkan kata 'Drama' pada setiap bab yang Ia tuliskan.


Hijrah Ekstrem merupakan sebuah buku non fiksi karya Mirani Mauliza. Berisikan kisah inspiratif, kisah nyata dari sang penulis. Buku best seller yang saya baca ini merupakan buku cetakan yang ke-8, diterbitkan pada bulan Mei 2021 dengan jumlah 198 halaman. Buku ini juga dilengkapi tabel riyadoh yang bisa digunakan untuk mengecek amalan ibadah yang kita kerjakan.
 

Hijrah untuk kehidupan dunia akhirat yang lebih baik

Review Buku
Mirani Mauliza atau lebih dikenal dengan sapaan Mira merupakan perempuan yang lahir di Kota Medan. Ayahnya merupakan seorang Kolonel dengan pangkat yang disegani dan sang ibu merupakan istri ke-3 yang sang ayah nikahi setelah menceraikan istri ke-2. Namun, keberadaan ibu Mira ini disembunyikan atau tidak diakui secara publik, hanya istri pertama saja yang diakui secara sah. 


Kesibukan sebagai abdi negara, kehidupan dengan istri pertama menjadikan hubungan sang ayah dengan Mira bersaudara 'terabaikan'. Peliknya hubungan yang tidak bisa ditunjukkan ke khalayak ramai serta kurangnya kasih sayang yang Ibu dan Mira dapatkan, membuat pernikahan kedua orang tua Mira harus berakhir. Sang Ibu harus memilih melanjutkan hubungan dengan sang Ayah yang tidak ada kejelasan akan kebahagiaan atau harus rela melepaskan dan berjuang sendirian.


Perpisahan ini membuka drama kehidupan yang mengiris hati. Setelah kedua orang tua Mira bercerai, sang ayah merasa tidak rela kehilangan Mira dan sang adik (Mira saat itu masih sekolah di Taman Kanak-Kanak). Sehingga pada suatu hari terjadi penculikan yang dilakukan sang ayah terhadap Mira dan sang adik. Dengan berdalih mengajak main ke rumah saudara, sang Ayah malah membawa Mira dan sang adik selama tiga hari tanpa memberi kabar telebih dahulu kepada ibu Mira. Dan hal ini baru Mira ketahui ketika sang ibu dan polisi menjemput mereka.


Kehidupan kemudian membawa Mira dan keluarga ke Kota Pontianak. Di kota inilah akhirnya sang ibu menemukan tambatan hati dan akhirnya menikah kembali dengan seorang yang kelak Mira dan sang kakak panggil 'Buya' (adik Mira meninggal dunia beberapa hari setelah penculikan). Di Kota ini, keluarga Mira harus berjuangan keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Hingga memaksa Mira harus ikut berjualan keripik di pasar dengan sang Ibu.


Perasaan bersalah sang Ayah karena pernah menelantarkan Mira dan kakak sewaktu kecil membuatnya memberikan fasilitas terbaik ketika Mira (saat SMP) dan sang kakak untuk melanjutkan sekolah di Medan. Uang saku yang berlimpah, rumah yang besar membuat kehidupan dua bersaudara berubah total. Kurangnya pengawasan membuat kehidupan Mira bebas, bahkan Ia menjadi pengunjung diskotek diusianya yang masih belia. Kehidupan malam dan minuman keras menjadi hal biasa yang Ia lakukan, bahkan hingga perkuliahan.


Kehidupan yang Ia jalani di Medan, ternyata tidak membuat Mira bahagia. Akhirnya Ia memutuskan untuk pindah ke Pekanbaru, kota yang menjadi tempat Umi dan Abahnya kemudian tinggal. Ia mencoba melupakan segala rasa sakit yang Ia alami selama di Medan dan mencoba memulai babak kehidupan baru, setelah sebelumnya Ia mencoba mengakhiri hidupnya atas permasalahan yang Ia hadapi di sana.


Setelah lulus Ia mencoba bisnis Multi Level Marketing (MLM) yang menempatkan Ia menjadi sosok yang sangat sukses, hingga Ia sering diundang stasiun televisi untuk menceritakan kisah suksesnya. Namanya sangat terkenal, sepak terjangnya tidak diragukan lagi. Namun, kehidupan membawa cerita yang berbeda. Setelah berada pada puncak kejayaan, Ia harus merasakan perihnya terjatuh dalam kepiluan.


Bisnis yang Ia jalani megalami kebangkrutan. Penipuan dari rekan kerja membuat Mira harus menanggung puluhan milyar hutang, yang menjadikan Ia buronan para debt collector sewaan dari para investor. Hingga akhirnya Ia harus menerima pil pahit untuk dipenjara menebus apa yang Ia lakukan. Ia dipenjara saat usia pernikahannya baru berumur satu bulan. Jika dulu namanya terkenal dengan sebuatan pebisnis muda, namun berubah sebagai seorang 'penipu' yang menggelapkan dana.

Drama perjalanan kehidupan yang Mira alami ternyata tidak sampai di sini. Setelah keluar dari penjara, Ia harus kembali terseok kembali. Mira mengalami penipuan senilai 1 Milyar, saat Ia dan sang suami ingin membangun rumah. Tidak sampai di sini, Mira juga didiagnosis mengidap Leukimia yang membuat kehidupannya semakin berat.

Tabel riyadoh, catatan ibadah yang dilakukan penulis


Setelah mengalami jatuh bangun dalam kehidupan, saat ini Mira tumbuh menjadi sesosok pengusaha yang telah banyak menginspirasi banyak kalangan, termasuk di dalamnya memberikan motivasi kepada para narapidana di penjara. Ia juga aktif dalam kegiatan keagaaman dan telah banyak hal positif lainnya yang Ia lakukan.


My Point of View
Membaca buku ini membuat saya berfikir, cerita kehidupan seseorang terkadang lebih 'kejam' daripada cerita-cerita yang banyak difilmkan di televisi. Selain itu, kisah 'happiness' seseorang ternyata hanya tampak ujungnya saja, di balik itu semua ada liku perih perjalanan yang harus dilewati. 


Apa yang saya tuliskan di dalam review ini tidak cukup merangkumkan semua kisah yang penulis sampaikan. Jika kamu ingin larut dalam kisah kehidupan yang membuat hati teraduk serta termotivasi, maka kamu wajib membaca buku ini. Selamat membaca

Review Film: Mimpi Ananda Raih Semesta (MARS)

Film Mimpi Ananda Raih Semesta merupakan sebuah film motivasi yang diadapatasi dari novel dengan judul yang sama. Film ini dirilis pada tanggal 4 Mei 2016 yang dibintangi oleh Acha Septriasa, Kinaryosih, Cholidi Asadil Alam, Teuku Rifnu Wikana, dan Chelsea Riansy.
Lansung saja ke sinopsis film MARS


Film dibuka dengan menampilkan sebuah gedung Sheldonian Theatre, Oxford di England. Terdengar kemudian suara seorang perempuan yang sedang membacakan pidato kelulusan. Sambil meneteskan air mata Ia mencoba menceritakan bagaimana pentingnya pendidikan dan orang yang berperan banyak dalam pendidikan yang Ia capai. "My mom always believe I can reach Mars (Lintang Latik) with my knowledge (Ibuku selalu percaya bahwa saya bisa mencapai planet Mars)". Dengan berlinang air mata, Ia menyampaikan pidatonya.

Teruslah berjuang menggapai apa yang kamu cita

Scene kemudian berubah saat senja hari di mana seorang anak perempuan bernama Sekar Palupi dan seorang anak laki-laki, Jono sedang bercakap-cakap. 


Sekar:Aku g mau pulang, Aku g mau kambing ini di jual
Jon: Eh Kar, kowe (kamu) jangan sedih begitu. Kowe seharusnya seneng, kamu sebentar lagi mau sekolah to ?
Sekar: Sekolah iku opo (apa) yo Jon?
Jon: Sekolah itu tempat kita belajar, biar pinter, biar g bodo
Sekar: Kalau ke sekolah boleh bawa kambing g
Jon: Kowe pikir kambing bisa sekolah?. Ngawor kowe (ada-ada saja kamu)
Sekar+Jon: Mereka akhirnya tertawa bersama
Sebuah percapakan antara Sekar dan Jono di sebuah padang rumput saat mereka mengembalakan kambing milik Sekar. Kambing satu-satunya milik Sekar yang akan dijual untuk biaya sekolah.


Seorang guru ngaji mengucapkan istighfar saat melihat beberapa orang tampak sedangan mengelilingi sebuah pohon besar, menyalakan kemenyan yang kemudian dipandu dukun yang sedang merapalkan mantra. Klenik (mistis) masih menjadi kepercayaan sebagaian besar warga saat itu.


Saat malam hari, Sekar dan keluarga sedang makan malam. Sang ayah menyampaikan jika Ia harus pergi malam nanti untuk bekerja di Wonogiri. Sekar menolak jika harus berpisah kembali dengan ayahnya. Sang ibu menjelaskan bahwa ayah bekerja untuk mengumpulkan uang yang banyak untuk bisa menyekolahkan sekar setinggi mungkin. Untuk meyakinkan Sekar, sang ayah berjanji akan menemani sekar bermain saat kembali dari berkerja.

 
Keesokan harinya Tupon dan Sekar naik mobil truk bersama warga desa yang lain. Mereka ingin menjual kambing yang mereka miliki satu-satunya. Seorang laki-laki yang membantu menjualkan kambing mereka menghampiri, dengan alasan pasar yang sepi, seseorang membeli kambing mereka dengan harga murah. Tidak beraninya Tupon membuat Ia membiarkan saja hal tersebut. Setelah mendapatkan uang, mereka kemudian pergi ke pasar untuk membelikan sekar seragam.


Disebuah ruangan saat beberapa walimurid dan anak mereka mendaftar untuk masuk SD. Semua orang tua kemudian mengumpulkan formulir pendaftaran yang sudah mereka isi, namun tidak dengan Tupon. Ia tidak bisa membaca dan menulis. Lembar formulir ditangannya masih kosong. Petugas pendaftaran pun membantu mengisikan formulir. 


Saat ditanya beberapa data, Tupon tidak bisa menjawab. Petugas kemudian marah karena menganggap Tupon tidak 'kooperatif'. Sambil tergagap Tupon mencoba meyakinkan kalau anaknya, Sekar ingin sekolah. Ia pun meminta kesempatan kepada Petugas untuk menunggunya mengambil Kartu Tanda Penduduk dari rumah. Tupon dan Sekar kemudian mengayuh sepeda dengan sekuat tenaga, tidak pedulikan panas dan rasa lapar yang mereka rasakan.


Sekar tidak diterima disekolah tersebut dengan alasan umur belum cukup untuk masuk kelas 1 Sekolah Dasar. Setelah sang ibu melalui banyak hal, memohon-mohon kepada kepala sekolah, akhirnya Sekar bisa sekolah. Namun, hal tersebut tidak berlanjut lama. Sekar akhirnya dikeluarkan dari sekolah karena sering bolos dan berantem dengan seorang siswa. 


Beberapa waktu berlalu, sebelum berangkat kerja sang ayah mengantarkan Sekar sekolah. Tidak lupa sang ibu pun ikut menemani dengan membawa rantang yang berisi bekal untuk suaminya. Sebelum Sang ayah dan ibu pulang, Sekar tiba-tiba memeluk sang ayah. Ia kemudian memeluk sang ayah dan bilang bahwa Ia sangat menyayangi ayahnya. Sang ayah kemudian memeluk sekar dan bilang 'Jadilah kebanggan kebanggan bapak dan ibu'.  Tidak berlangsung lama, terjadi kecelakan ditambang batu di mana tempat ayah Sekar bekerja. Atas kejadian itu, sang ayah kehilangan nyawanya. Kesedihan mendalam mereka rasakan, namun sang ibu ingat pesan sang suami tentang harapannya untuk pendidikan Sekar. Sekar pun berjanji untuk bersungguh-sungguh sekolah.


Waktu berlalu beberapa tahun kemudian, saat sekar sudah berumur 17 tahun. Sebuah tawaran untuk menikah datang kepadanya. Dengan tergagap Ia menyampaikan kalau Ia masih mau kuliah. Sang ibu bahagia setelah mendengar jawaban dari Sekar. Namun, Ia memiliki permasalahan lain, Ia harus menyampaikan berita itu ke kepala desa yang menjodohkan Sekar dengan seseorang yang sudah mapan.


Kepala desa & istri (KS): Kuliah ? Coba diulangi lagi mbak?
Tupon: Sekar Palupi ingin kuliah pak. Anak saja mau jadi sarjana.
KS: Sarjana ? Mereka tertawa meremehkan. 'Tolong jangan bercanda mbak, g usah macam-macam'. 'Iya mbak yu. Kamu itu g usah macam-macam. Harus sadar diri. Kuliah itu biayanya banyak lo. Memangnya kamu mau membayar pakai apa? pakai uang apa?' Istri kepala desa tidak kalah menyudutkan Tupon.


Tiba-tiba datang seorang tamu yang sangat dihormati oleh kepala desa dan istri. Sang tamu penasaran kenapa ada Tupon di rumah mereka. Kepala desa akhirnya menjelaskan kalau Sekar menolak lamaran yang mereka tawarkan karena ingin kuliah. Bukannya mendukung Tupon, mereka semua tertawa bersama menjatuhkan Tupon, dan mengatakan bahwa orang kecil seperti Tupon tidak layak untuk punya impian yang tinggi. Tupon hanya menunduk, mencoba tersenyum, meskipun hatinya sakit atas penghinaan mereka.


Demi menggapai cita-citanya, keesokan harinya Sekar dan ibunya pergi dari rumah menuju Yogyakarta untuk menemui keluarga mereka. Setelah lama mencari tidak juga kunjung mereka temukan rumah saudara yang mereka tuju. Sambil melepas lelah, mereka istirahat di Masjid. Tidak ada clue kemana lagi mereka harus mencari. Kemudian mereka menemukan sebuah dompet di selokan saat mereka akan meninggalkan Masjid. Dibantu seorang imam masjid, akhirnya mereka mengembalikan dompet tersebut ke pemiliknya. 


Sang pemilik dompet tenyata istri dari guru ngaji waktu Sekar kecil dulu. Dengan perasaan senang, sang guru menawarkan agar sekar mau tinggal di rumah mereka. Sekar bisa bantu-bantu sang istri ketika Sekar pulang kuliah. Tawaranpun diterima dan Sekar masuk kuliah dengan beasiswa yang Ia dapatkan sebelumnya serta tinggal di rumah sang guru ngaji yang saat itu juga berprofesi menjadi seorang dosen. Sementara ibunya kembali ke desa.


Waktu berlalu, Sekar mendapatkan tawaran dari seorang astronom terkenal untuk menggantikannya dalam memberikan presentasi disebuah seminar. Sekar yang sadar diri tentu menolak. Namun, sang astronom yang juga tokoh astronot wanita yang Ia kagumi itu mencoba meyakinkannya. Dan akhirnya Sekar menerima tawaran tersebut. Seminar itu ternyata diliput banyak media dan tentu saja membuat sekar dikenal oleh banyak orang.


Scene kembali lagi saat ini. Sementara Sekar berjuang dengan impiannya di sebuah kampus top dunia, Oxford, sang ibu di Indonesia dengan badan ringkihnya masih berjuang keras juga. Sang ibu  memegangi dadanya yang sakit yang disertai dengan batuk darah. Kondisinya semakin parah akibat terjatuh di jalan saat mecari rumput.


Sementara itu, Sekar masih menjalankan aktivitasnya di kampus dan Ia menjadi salah satu mahasiswa pintar yang diakui keahliannya dalam bidang astronomi. Sehingga hal tersebut yang membuat Ia menjadi salah satu mahasiswa yang memberikan pidato kelulusan.


'Gunung Kidul  di mana tidak ada listrik, di sana saya tumbuh dalam kemiskinan. Hanya ada beberapa orang yang lulus SMA, sebagian besar membantu orangtuanya atau pindah ke kota lain. Para wanita di sana bekerja sebagai pembantu atau menikah pada usia dini.." penggalan dari pidato yang Sekar sampaikan dengan linangan air mata.


Setelah usai dengan studi, Sekar memutuskan untuk pulang. Namun yang Ia temui hanya rumah yang kosong tanpa ada penghuni, bahkan seperti tidak ditinggali dalam waktu yang lama. Kemudian Ia bertanya kepada tetangga yang berada tidak begitu jauh dari rumahnya. Dengan menahan tangis tentangga tersebut mencoba menguatkan Sekar. Sekar masih belum bisa menangkap apa yang sedang terjadi hingga kemudian Ia tersadar bahwa sang ibu telah tiada. 


Setelah tangisnya reda, Sekar langsung pergi ke puasa sang ibu. Dengan membaca ijazah, Ia mengatakan 'Mbok, Sekar sudah sampai di Lintang Latik (Mars) Mbok' dengan manangis Ia meminta maaf pada ibunya. Senja hari di sebuah laut, Sekar menuntun sepeda roda duanya 'Mbok ternyata kamu sudah sampai di Lintang Latik ya'. Film pun selesai
==
Ini pertama kalinya saya menulis review film. Cukup panjang ya :D. Menurut saya setiap bagian film ini penting untuk dituliskan, sehingga hal inilah yang membuat sinopsis film MARS ini tidak bisa singkat seperti yang biasa dituliskan oleh para ahli review.

Film ini sangat bagus. Ada perjuangan seorang ibu dan anak yang tidak mudah. Sang ibu yang rela bolak-balik mengantarkan Sekar sekolah dengan jarak 14 km tanpa mengeluh. Harapannya cuma satu, agar nantinya Sekar bisa sekolah setinggi mungkin.


Film ini sangat cocok ditonton apalagi bertepatan dengan Hari Kartini saat ini. Mereka merupakan contoh  Kartini-Kartini baru yang tetap berjuang dengan segala keterbatasan yang mereka miliki. Termasuk kita para Kartini yang saat ini terus melangkah menggapai apa yang kita citakan. Selamat berjuang.

#Tulisan ini merupakan bagian dari BPN 30 Ramadan Blog Challenge 2022 yang diselenggarakan oleh Blogger Network.

Review Buku: Diehard Antrepreneur 'Believe in Tomorrow'

'Bagaimana caranya dalam waktu satu tahun aku bisa medapatkan uang 100jt?'. 'Saat lulus SMA nanti uang tersebut harus sudah terkumpul, sehingga cukup membiayai kuliahku di Universitas Prasetiya Mulya untuk tahun pertama perkuliahan. Lalu pekerjaan apa yang harus aku lakukan untuk dapat mengumpulkan uang tersebut?".

Diehard: Selalu bangkit untuk berjuang

Kalimat di atas merupakan sebagian kecil dari cuplikan buku yang berjudul Diehard Antrepreneur yang ditulis oleh Nicholas Kurniawan. Buku non fiksi ini diterbitkan pada tahun 2016 oleh PT. Alex Media  dengan jumlah 231 halaman. Buku ini berisi kisah nyata penulis yang masuk dalam genre motivasi. Disajikan dengan cover berwarna cokelat serta gambar semut sebagai penghiasnya.


Poin of View (Buku ini berisi sepuluh bab. Akan saya rangkumkan hanya satu bab saja)
Story of My life
Nick begitu sapaan untuk Penulis merupakan bocah mandiri yang sudah mulai berbisnis sejak kelas 2 SD. Dibesarkan dari keluarga sederhana dan terbiasa dengan kehidupan yang tidak mudah, membuat Nick muda sudah berjuang sejak kecil. Ia yang tahu bagaimana keadaan keluarga memutuskan untuk hidup mandiri, meskipun tidak sepenuhnya bebas dari bantuan orang tua.

Memantaskan diri

Titik terendah sekaligus awal perjuanganya adalah ketika Ia dinyatakan tidak naik kelas dari kelas 2 SMA, padahal Ia merupakan siswa yang cukup berprestasi. Demi menjaga nama baik kedua orang tuanya, akhirnya Ia memutuskan untuk pidah sekolah. Dan disekolah baru inilah, Ia kemudian berjuang sangat keras untuk mengumpulkan uang 100jt sebagai biaya untuk kuliah di tahun pertama di kampus bisnis Prasetiya Mulia.


Akhirnya disusunlah srategi untuk mendapatkan uang tersebut. Plan A: Menjadi eksportir ikan hias. Plan B: Belajar lebih giat agar mendapatkan beasiswa, sehingga tidak harus bayar kuliah. Eksekusi Plan A. Banyak rintangan yang harus Penulis hadapi. Semakin banyak keuntungan yang diinginkan, semakin banyak ikan yang harus terjual. Sementara Ia hanyalah newbie pada bidang eksportir ini. 

Tetapkan tujuan

Langkah yang Ia lakukan adalah mencari guru yang bisa memandu jalannya usaha. Namun, karena masih SMA, banyak orang yang Ia temui tidak memberi dukungan, bahkan mencemooh. Sementara proses ini berlangsung, Ia mencoba peruntungan pada Plan B. Namun, Ia tidak berhasil untuk mendapatkan beasiswa. Singkat cerita Ia kemudian bekerja sama dengan seseorang teman, sehingga kegiatan eksportir ikan dapat berlangsung. Kegiatan eksportir berjalan lancar, hingga suatu ketika partner bisnis yang sangat Ia percayai melakukan penipuan. Sehingga Ia mengalami kerugian puluhan juta. Kerugian materi dan mental Ia dapatkan. 


Tengat waktu pendaftaran yang kian dekat, membuat Penulis semakin terpuruk.Kemudian di tengah badai yang Ia hadapi, akhirnya Ia paham 'God Plan' makna dari apa yang Ia alami sebelumnya. Mantan partner yang menipunya ternyata banyak menipu para pembeli juga. Jika sebelumnya, setiap order akan diterima si partner, kemudian baru di teruskan ke Penulis. Namun, dengan adanya kejadian penipuan itu, order-order terbaru yang jumlahnya cukup besar kemudian beralih lansung ke Penulis (tanpa perantara, sehingga keuntungan jauh lebih besar dari sebelumnya). Dan seperti itulah akhirnya Ia bisa mendaftar ke Universitas Prasetya Mulya dengan uang sendiri saat lulus SMA.

Maka, hasil tidak akan mengkhianati usaha

Ini hanyalah satu cuplikan dari beberapa cerita menarik yang Penulis sampaikan. Adanya keterikatan yang kuat dengan Sang Pencipa pada setiap proses yang Ia lalui membuat buku non fiksi ini semakin manarik. Setiap permasalahan yang Ia lalui menghasilkan cerita perjuangan yang mampu dibagikan ke Pembaca.


Perjuangan inilah yang mengawali langkah besar Nicholas Kurniawan dalam menaklukan semua tantangan dikemudian hari, hingga kemudian Ia mendapatkan berbagai penghargaan yang mengangkat namanya menjadi pebisnis muda terbaik di Indonesia. Ia mengatakan, bahwa God's Factor-lah yang menguatkan selama perjalananan yang Ia tempuh. 


Adanya kerterikatan antara usaha, hasil dan peran Tuhan lah (Red:Usaha, doa dan tawakal) yang membuat buku ini semakin menarik menurut saya. Penulis menyadari bahwa apa yang Ia dapatkan sejauh ini adalah karena kebaikkan-Nya. Apakah kegagalan waktu SMA, penipuan yang Ia alami dan liku perjuangan yang Ia hadapai merupakan garis kehidupan yang harus Ia lalui. Kalau dalam bahasa agama Islam, ridho dengan segala takdir Allah, kemudian mengambali langkah untuk berusaha sebaik mungkin untuk memperbaiki apa yang sudah terjadi. Tugas kita hanya berusaha dan Dia yang akan menentukan takdir yang terbaik untuk hambaNya.

Mari berjuang, menggapai apa yang kita citakan

Kembali pada judul buku. Die hard bisa kita artikan tahan banting, tidak mati-mati, selalu bangkit saat terpuruk. Sedangkan Ant trepeneur berasal dari gabungan dua kata, ant untuk semut dan trepreneur dari kata entrepreneur dapat diartikan wirausahawan. Ant atau semut merupakan hewan kecil yang kuat. Bahkan mampu membawa beban berkali lipat dari berat tubuhnya. Jika kita pernah mengamati barisan rombongan semut, maka kita akan tahun bahwa semut selalu 'menyapa' saudanya ketika berpapasan. Hal ini jika dikorelasikan maka makna Diehard Antrepeneur adalah menjadi seseorang yang tahan banting, tidak mudah menyerah terhadap segala hal yang membatasi geraknya serta peduli dengan sesama.

Review Buku: Hijrah itu Keren

Kapan waktu yang tepat untuk berhijrah? Mungkin kita pernah mengalami sendiri atau mendengar jawaban dari beberapa teman tentang menentukan waktu yang tepat untuk hijrah. Ketika kita bertanya kepada diri sendiri atau orang lain, jawabannya bermacam-macam 'Hijrah nanti saja deh, kalau sudah umur sekian. Nanti saja kalau sudah lulus ini itu. Nanti saja kalau dapat hidayah dan lainnya'. 


Saat melihat tayangan kisah hijrah seseorang di media sosial. Terkadang, air mata ikut menitik, ikut merasakan haru. Seakan-akan kita merasakan langsung apa yang mereka alami. Ada yang kisah hijrahnya mudah dan banyak juga yang begitu sulit penuh dengan tantangan. Mereka harus menghadapi orang terdekat (keluarga) yang menjadi penentang utama. Tidak sedikit, dikucilkan dan diusir dari rumah, hanya sekedar ingin berubah mengenakan jilbab misalnya. Bahkan mendapat predikat 'sok alim' dari teman-teman satu circle, sehingga Ia juga mengalami bullying dan bahkan dijauhi.

InsyaAllah akan ada jalan yang menguatkan

Point of View
Buku berjudul 'Hijrah itu Keren' merupakan buku bergenre motivasi yang ditulis oleh Muchlisin BK. Diterbitkan pada bulan Maret 2021 oleh Penerbit Satoe Sidoarjo Jawa Timur. Buku ini saya dapatkan lebih dulu sebelum buku The Power of PhD Mom dan Diehard Antrepreneur. Ketiga buku ini maraton saya selesaikan di bulan Maret, meskipun hanya buku Diehard Antrepreneur yang memang full dari awal saya baca, yang lainnya hanya menyelesaikan beberapa bab akhir saja.


Cover buku disajikan dengan perpaduan warna yang menyegarkan mata, yaitu warna biru dan hijau serta gambar sebuh bus berwarna kuning yang bertuliskan 'Bus Hijrah-Jannah'. Hijrah diibaratkan sebagai kendaraan kita menuju jannah sebagai tempat pemberhentian terkahir.


Mengapa buku ini tidak saya 'habiskan' dalam satu waktu, padahal hanya 97 halaman? Well, buku ini saya ibaratkan kue brownies, yang ketika memakan kue tersebut tidak bisa dalam jumlah besar dalam sekali makan, harus dinikmati perlahan, dinikmati. Korelasinya dengan buku ini adalah terkadang pada buku-buku yang saya anggap menarik, saya merasa sayang untuk 'mentamatkan' buku tersebut. Jadi saya tunda-tunda untuk membacanya. Ada poin-poin yang harus dipahami dengan benar, yang harus dipraktikkan dan lainnya.


Darimana harus memulai hijrah?
Bagi kita yang ingin berhijrah. Selain mempelajari ilmu hijrah dari para alim ulama melalui pengajian secara langsung ataupun melalui youtube, bisa juga dengan membaca buku. Dan buku ini saya rekomendasikan untuk kamu baca. Di dalam buku ini disebutkan bahwa ada tiga kategori hijrah, yaitu perubahan dalam akidah, ibadah dan akhlak.

Perubahan itu untuk diri sendiri, bukan untuk menghakimi orang lain


Perubahan tersebut merupakan tahapan ideal yang Penulis jabarkan. Secara ringkas saya rangkumkan. Perubahan dalam akidah, menunjukkan bagaimana akidah kepercayaan kepada Allah SWT harus kita tingkatkan levelnya dengan meng-Esa-kan  hanya kepada Dia, percaya dan bergantung hanya kepadaNya. Perubahan ibadah dapat dilakukan dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas dari ibadah yang kita lakukan. 


Jika sebelumnya sholat lima waktu belum komplit, maka harus dimulai dengan sholat penuh lima waktu. Jika sebelumnya hanya sholat wajib saja, maka bisa menambahkan dengan sholat rawatib dan peningkatkan ibadah lainnya. Kemudian yang menjadi bagian akhir adalah adanya korelasai antara akidah dan ibadah yang menghasilkan akhlak yang lebih baik. Jika perubahan tersebut tidak membawa pada perubahan yang lebih baik, maka mungkin ada salah pada proses yang kita dilakukan.
 

Kapan harus memulai berhijrah?
Kapan kita siap hijrah?. Duh, hal yang sulit dijawab. Terkadang kita tidak punya kriteria khusus kapan waktu yang tepat untuk berhijrah, sehingga membiarkan proses ini mengalir seperti air, dan bahkan mungkin banyak dari kita yang mengatakan 'nanti saja nunggu hidayah'. Menurut pendapat saya, waktu yang tepat untuk hijrah adalah saat ini. Karena tidak ada yang tahu tentang kapan umur kita akan berakhir, kehidupan yang kita miliki adalah saat ini, nanti atau besok siapa yang tahu?. 


Selain itu menyegerakan untuk hijrah berarti menyegerakan kebaikan untuk diri kita sendiri. Jika dirasa masih berat untuk hijrah, maka yang harus kita lakukan adalah 'memaksakan diri'. Iya, memaksakan diri untuk menjadi lebih baik itu harus dilakukan. Bukankah kita sering mendengarkan sebuah kata-kata 'Ala bisa karena terpaksa atau Ala bisa karena terpaksa'?.

Lakukan saja dulu

 

Bagaimana cara meng-on-kan selalu semangat hijrah?
Pada bagian ini Penulis menjabarkan untuk menjaga baterai hijrah agar tetap stabil ada beberapa tahapan yang harus kita lakukan, diantaranya Ridha terhadap takdir Allah, Inginkan perubahan, Selalu optimis, Eksekusi perubahan dan Perbanyak doa.Berikut ringkasannya. 

Ridho terhadap takdir Allah. Terdapat dua keterpurukan yang kita alami, pertama akibat dosa dan kesalahan, dan ujian dari Allah. Maka, ridho terhadap ketetapan yang sudah Allah takdirkan menjadi hal pertama kita lakukan. Legowo dengan apa yang sudah terjadi. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan perbaikan diri.


Inginkan Perubahan. Hal mendasar lain yang menguatkan dalam hijrah. Harus ada keinginan yang kuat dari diri sendiri, bukan karena pasangan, teman, keluarga atau yang lainnya. Jika dari dalam diri kita terdapat sumber perubahan itu, maka sekuat apapun badai yang akan menghalangi hijrah, kita akan terus melaju. Mengabaikan tantangan tersebut dan membuat kita semakin kuat.

Selalu Optimis. Terkadang yang menurunkan semangat kita, buka orang lain, melainkan diri kita sendiri. 'Orang seperti aku, susah deh kayanya untuk bisa berubah, Nanti kalau aku hijrah dianggap sok alim dan dijauhi teman-teman dong, Kalau aku pakai kerudung terus dibilang teroris bagaimana?. Yang lebih parahnya kita mungkin mengatakan 'Sepertinya Allah tidak memudahkan langkahku untuk hijrah karena dosa-dosaku terlalu banyak dan hal lain sebagainya yang membuat kita pesimis dengan hijrah yang kita lakukan'. Maka selalu optimis bahwa kita bisa berubah itu kunci dari hijrah.

Perubahan=Perbaikan diri


Eksekusi Perubahan. Nah ini ni yang menjadi hal utama lainnya. Resolusi tanpa aksi itu ilusi. Pengen berubah tapi hanya di angan-angan itu mimpi. Harus ada eksekusi apa yang kita inginkan. Mulai dari yang bisa kita lakukan. Jika, kita bingung mau mulai darimana langkah eksekusi tersebut, maka bisa bertanya pada teman yang kita anggap lebih salih, mengikuti komunitas hijrah, atau langkah lainnya yang menunjukkan keseriusan dari keinginan kita untuk berubah.


Memperbanyak Doa. Terkadang, keinginan kita untuk hijrah begitu menggebu. Namun, dilain waktu terjun bebas tidak terkendali. Maka satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah memperbanyak doa. Berdoa merupakan cara kita menyandarkan diri kepada Allah, menyadari dengan sebenar-benarnya bahwa hanya Allah yang bisa mengubah, menolong dan mengabulkan semunya. 


Bismillah, mulai saja dulu. Apalagi sebentar lagi insyaAllah kita akan bertemu dengan bulan suci Ramadhan. Bulan di mana setiap orang berlomba-lomba dalam kebaikan. Maka, kita tidak berjuang sendirian, melainkan ramai bersama dengan orang-orang lainnya. Semoga proses yang kita lakukan, menjadikan pribadi baru yang lebih baik. Hijrah atau perubahan itu tidak sekali saat dimulai perubahan itu sendiri, melainkan sepanjang waktu sepanjang sisa umur  yang kita miliki.


Selain poin-poin yang saya rangkumkan di atas, tentu masih banyak lagi hal-hal menarik yang tidak bisa saya tuliskan semuanya. Agar pemahaman terhadap isi buku lebih lengkap, maka membaca langsung dari buku 'Hijrah itu Keren' saya sarankan.

 

Review Buku: The Power of PhD Mom

Setelah mereview buku dengan latar kisah di Inggris (baca cerita lengkapnya di sini), kali ini saya akan mereview buku dengan latar cerita di Belanda, negeri kincir angin dan bunga tulip yang menjadi ciri khas utama yang biasanya sering kita lihat di media sosial.


Buku ini ditulis oleh Monika Oktora. Seorang ibu, istri, dan mahasiswa. Tiga profesi yang dijalani sekaligus dalam waktu bersamaan.  Buku 'The Power of PhD Mom' menceritakan perjalanan Penulis saat menempuh pendidikan S3 di Universiteit Medical Center Groningen (UMCG). Tidak hanya kehidupan perkuliahan namun kehidupan bersama dengan keluarga juga diceritakan.

Buku The Power of PhD Mom

Buku yang diterbitkan oleh NEA Publishing ini terdiri dari 143 halaman, tidak begitu tebal, yang seharusnya bisa saya 'habiskan' berbulan-bulan lalu ketika pertama kali saya membeli buku ini, namun baru saya selesaikan bulan Maret ini, maraton bersama dengan buku lain (Hijrah itu Keren dan Diehard Antrepreneur, insyaAllah review menyusul:D). 


Buku ini saya beli dengan harga 64ribu, dengan ciri khas cover berwarna hitam yang berpadu dengan warna lain yang cukup eye catching dengan tambahan foto bangunan khas Eropa. Buku ini diterbitkan pada Februari 2022. Di setiap bagian bab yang dituliskan, Penulis menambahkan gambar kincir angin yang menjadi penanda bahwa kisah di dalam buku ini berlatar di negara Belanda.

Petarung yang hebat dihasilkan dari medan yang berat

 

Point of view
Bahasa Belanda masih terdengar asing bagi saya, tidak ada satupun kata yang saya pahami. Sehingga ketika saya membaca buku ini, dan mencoba membaca kata-kata yang dituliskan dalam bahasa Belanda, masih sulit pengucapannya. Hal yang baru dan menarik menurut saya.


Hidup di negara asing dengan bahasa yang tidak kita ketahui sama sekali tentu membutuhkan effort yang sangat besar. Hal ini dikuatkan dengan cerita Penulis pada bab 2 yang berjudul 'Phd Mama'. Pada bab ini Penulis mencurahkan kegundahannya dalam sub judul ' Salah Jalan'. Banyak hal yang Ia bahas seperti keraguan dalam melanjutkan jalan yang Ia tempuh untuk melanjutkan studi, bagaimana tertekannya Ia dengan keadaan, tentang menjadi satu-satunya muslimah yang memiliki dua orang anak yang melanjutkan S3 di lingkungan program studinya dan kegundahan lainnya.

Abaikan deru angin yang mengganggu


Ia kemudian menguatkan diri dengan menuliskan 'Hanya ada pilihan untuk melanjutkan langkah, meski tertatih, dengan harapan semua akan baik-baik saja sampai menemukan garis finish'. Pada akhirnya, penulis mengambil langkah untuk bertahan dan menguatkan langkah untuk memperjuangkan apa yang sudah Ia mulai.


Kemudian peran sebagai seorang istri. Penulis dan pasangan sama-sama pejuang PhD, berjuang bersama di tanah rantau. Untuk menjaga keseimbangan aktivitas pengasuhan anak dan perkuliahan, kedua pasangan ini memiliki mekanisme untuk mengatasi hal tersebut, yaitu 'berbagi tugas'. Misalnya tugas untuk mengantarkan sekolah anak, membuang sampah, membersihkan rumah dan lainnya sehingga kelangsungan rumah tangga dapat berjalan lancar.


Masih banyak sekali hal menarik yang dibahas, seperti sistem pendidikan, fasilitas pasca melahirkan (maternity care-kraamzorg), bagaimana dealing dengan dosen pembimbing yang killer, lika-liku perjuangan kuliah dan lain sebagainya yang membuat cerita pada tulisan ini menarik untuk dibaca. 


Jika kita hanya melihat update status kegiatan para penulis di instagram, yang produktif dengan segala aktivitasnya. Maka dengan membaca kisah para diaspora tersebut melalui buku yang mereka tuliskan, dapat memberi sedikit gambaran bagaimana liku terjal perjalanan yang mereka lalui, yang menjadi bumbu perjalanan untuk menggapai apa yang mereka citakan. 

Teruslah melangkah

Selain berisi kisah perjuangan yang mereka lalui, kita juga bisa ikut berimajinasi tentang negara yang menjadi latar di mana cerita tersebut diambil. Terkadang untuk lebih 'masuk' dalam cerita, kita akan mulai browsing tentang nama-nama tempat yang disebutkan di dalam buku. Jika buku tersebut non fiksi, tentu kita bisa melihat bagaimana bentuk bagunan atau hal lain yang disebutkan di dalam buku. Namun, jika buku tersebut fiksi, maka kita bisa melatih daya imajinasi kita tentang apa yang dituliskan.


Buku ini ditulis dengan bahasa yang lugas dan jelas sehingga mudah dipahami. Bagi kamu yang menyukai buku dengan genre motivasi sekaligus berisi cerita perjuangan hidup sang Penulis, buku ini bisa menjadi list yang harus kamu baca. Selain itu, buku ini juga cocok bagi kamu yang ingin melanjutkan kuliah di UMCG, sehingga kamu bisa mengetahui gambaran keadaan yang ada di sana. Happy reading.