Showing posts with label Surabaya. Show all posts
Showing posts with label Surabaya. Show all posts

Berburu Buku Bekas Di Kampung Ilmu Surabaya

Waktu menunjukkan pukul sembilan lebih sembilan belas menit saat Kereta Api Commuter yang saya naiki tiba di Stasiun Pasar Turi Surabaya. Riuh suara anak-anak kecil terdengar ramai saat tahu mereka sudah sampai tujuan.


Setelah secara impulsif mencoba KA Commuter ini, saya melangkahkan kaki menuju Kampung Ilmu yang terkenal dengan kawasan penjualan buku-buku bekas. Tepat di sebelah kanan dari arah keluarnya kendaraan, kita akan menjumpai kios-kios penjual buku. Di antara kios tersebut, juga terdapat para penjual furnitur, beberapa di antaranya tampak sedang mendempul meja yang terlihat cantik akibat efek dari pemberian furnish.

Menggiurkan bukan, koleksi bukunya?

Kios buku yang berada di trotoar, di samping kanan jalan ini, memang bukan tempat yang sebenarnya saja tuju. Malam sebelumnya, saya iseng mencari informasi berapa jarak dari Stasiun Pasar Turi menuju Kampung Ilmu. Ternyata cukup dekat, hanya tujuh menit dengan berjalan kaki berdasarkan informasi dari mbah google.


Belum pernahnya saya ke kawasan ini, membuat saya mengira jika barisan toko buku yang ada di samping jalan merupakan Kampung Ilmu yang sebenarnya sedang saya cari. Sehingga, saya memutuskan untuk mampir ke sebuah kios dengan koleksi buku-buku yang tertata rapi di banding dengan kios-kios lainnya. Buku yang disajikan juga terlihat lebih banyak.


Ada banyak buku terkenal di kios ini, seperti karya dari Dee Lestari, Fiersa Besari, Habiburrahman El Shirazy, Andrea Hirata dan banyak buku dari penulis terkenal lainnya. Mata saya pun langsung awas menyisir, mencari buku-buku yang sekiranya menarik untuk dibaca. 


Saat mencari buku, tangan kita akan merasakan debu-debu yang menempel pada permukaan buku. Cukup mengganggu sebenarnya, namun mau bagaimana lagi, kalau tujuan kita adalah mencari buku bekas, maka seperti inilah keadaanya. Meskipun masih ada buku-buku yang bersampul plastik. Namun kondisinya tidak jauh berbeda. 


Setelah berkeliling mencari buku bekas ori, akhirnya saya menemukan buku dengan judul '9 Summer 10 Autums-Dari Kota Apel Ke The Big Apple'. Merupakan sebuah novel yang dituliskan oleh Iwan Setyawan. Seseorang yang pernah tampil dalam acara Kick Andy di Metro TV. Buku yang Ia tulis ini, juga pernah difilmkan. Saya sudah melihat tayangan filmnya, namun belum pernah membaca cerita dari novel aslinya.

Gusti, kuatkan aku dari buku-buku yang menggoda ini :D

Kondisi buku yang saya beli ini, terlihat kotor dan berdebu pada bagian sampul. Tak apa, bisa dibersihkan nanti ketika sudah sampai di kost. Yang terpenting buku itu ori dan cerita di dalamnya menarik. Pun harganya juga murah, hanya sepuluh ribu rupiah. 


Sebelum menemukan buku ini, saya sebenarnya sudah menemukan buku menarik lainnya. Ketika saya tanya ke penjual, harganya lima belas ribu. Sambil menimbang apakah saya akan membeli buku tersebut, saya mencoba mencari buku lain, dan akhirnya bertemulah dengan buku '9 Summer' tersebut.
Di kios tersebut saya hanya mendapatkan satu buku. Sebenarnya banyak sekali buku yang ingin saya baca, namun kembali bahwa di toko buku bekas seperti ini, mereka tidak benar-benar menjual buku ori bekas. Melainkan, buku bajakan dari penulis terkenal dengan harga yang jauh lebih murah. 


Setelah mendapatkan buku, saya mulai melipir ke Kampung Ilmu. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari penjual buku tersebut, lokasinya sekitar seratus meter dari kios tempat saya membeli buku yang pertama. 


Akhirnya saya tiba di sebuah kawasan dengan barisan kios buku yang jauh lebih rapi dibandingkan dengan kios-kios buku sebelumnya. Banyak sekali buku yang menggiurkan untuk dibaca. Namun, kembali lagi. Saya berusaha untuk tidak tergoda dengan buku-buku bersampul rapi yang ditawarkan dengan harga jauh lebih murah dari buku yang dijual oleh toko aslinya. Sudah pasti, buku-buku ini adalah buku bajakan, buku kw yang entah kenapa tumbuh subur keberadaanya.


"Ada buku bekas Tere Liye mbak?" Mungkin di antara buku kw yang mereka pajang, mereka juga memiliki buku bekas ori.
"Ini mbak." Saya memeriksa sebuah buku dari Tere Liye degan judul 'Bulan'. Judul yang sudah pernah saya baca sebelumnya. Ternyata buku yang saya pegang ini pun kw dan bekas. Lengkap sudah.
"Judul lainnya ada ngga mbak?" Saya masih mencoba bertanya.
"Yang baru ada mbak." buku Tere Liye dengan judul lain 'Si Putih' dengan bungkus plastik yang masih rapi terlihat di barisan buku-buku tersebut. Saya pun pamit pergi untuk tidak membeli buku tersebut.


Sebuah kawasan yang berisi lebih dari lima belas kios buku menjadi ciri lokasi yang akhirnya saya temukan ini. 


Menurut saya semakin best seller sebuah buku, maka kemungkinan pembajakan tulisan tersebut akan semakin tinggi. Padahal, di setiap buku selalu tertulis apa saja pidana yang akan diterima ketika menggandakan buku-buku. Melanggar hak cipta yang hukuman dan dendanya saja membuat kita bergidik ngeri. 

Saya beli buku '9 summers 10 autumns' di sini

Seingat saya, saya belum pernah melihat tayangan berita pada media sosial tentang penangkapan para pengganda buku bajakan. Duh, miris sekali. Susah payah sang penulis menuangkan idenya pada sebuah buku yang pastinya membutuhkan waktu lama untuk dibukukan. Mereka dengan santainya menggandakan, mengedarkan, tanpa memperdulikan perasaan dari sang penulis.(Baca: Perbedaan Buku Asli Vs Bajakan).


Para pembeli banyak berdatangan di toko buku ini, baik toko buku yang ada di samping jalan di sebelah stasiun, pun dengan toko buku di kampung ilmu. Kampung Ilmu merupakan tempat yang sudah terkenal dengan banyak kalangan. Bagi mereka yang sangat menyukai buku, tempat ini adalah surganya.


Saat mencoba memilah dan memilih buku, saya bertemu dengan beberapa pembeli yang langsung menunjukkan layar hpnya kepada penjual, menanyakan jika buka yang dimaksud ada tidak di kios mereka. 


Seorang bapak berasal dari Bandung yang saya temuai di penjual buku pertama dan di Kampung Ilmu, rupanya sedang mencari buku. Berulang kali saya mendengar beliau menanyakan buku-buku yang berkaitan dengan sejarah masjid yang ada dibeberapa tempat di Indonesia. Namun tak jua kunjung ia dapatkan. Memang lokasi ini gudangnya buku, namun tetap tidak bisa menyediakan semua buku yang diingankan penjual yang selera bukunya beragam.


Masuk di Kampung Ilmu ini harus benar-benar menata hati :D. Kalau salah perhitungan, bisa jadi kita kalap dan membelanjakan semua uang yang kita miliki dengan buku-buku yang menarik. Selain itu, membeli buku kw aka bajakan juga harus kita pertimbangkan matang-matang. Bisa jadi tindakan membeli buku kw tersebut yang kita anggap enteng, malah membuat sang penulis berhenti dari profesinya. Hatinya sakit akibat dari penggemar tulisannya sendiri, yang katanya cinta ternyata malah menusuknya dari belakang. Apasih :D.


Menulis satu artikel di blog dengan jumlah delapan ratus sampai seribu kata saja, membutuhkan waktu lebih dari dua jam (maklum penulis amatir). Apalagi jika referensi yang dimiliki kurang, sehingga tulisan itu harus bersemayam di folder draft, bisa jadi tulisan itu baru jadi setelah beberapa hari. Bagaimana dengan penulis kawakan? pasti jauh membutuhkan banyak waktu, tenaga, referensi, biaya dan hal lainnya sehingga karya itu bisa diterbitkan.

 
Perburuan buku yang saya lakukan ini hanya mendapatkan satu judul buku. Selain waktunya terlalu sempit karena saya menjadwalkan kembali ke Gresik pukul setengah dua belas, uang yang tanpa persiapan saya bawa pun terlalu cekak :D. Mungkin nanti diperburuan yang ke-2, saya harus mengalokasikan waktu yang cukup, kalau untuk uang bawa sedang saja, jangan bawa terlalu banyak, takut khilaf:D.


Rute menuju Kampung Ilmu Surabya:
Setelah ke luar dari Stasiun Pasar Turi, ambil arah kanan menuju jalan keluar kendaraan. Belok ke kanan, jalan lurus kira-kira seratus lima puluh meter, Kampung Ilmu ada di sebelah kanan. Lokasinya agak masuk, jadi agar kamu tidak keblabasan jalan terlalu jauh, bisa tanya orang-orang yang kamu temui di sana saja untuk memastikan. Selamat berbelanja buku.

Tes SKD di Universitas Negeri Surabaya

Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Semua berkas yang dibutuhkan sudah saya masukkan ke dalam tas punggung, tidak lupa flasdisk yang berisi file sertifikat bukti telah melakukan vaksinasi tersimpan, rencananya saya akan mampir sebentar ke tempat fotocopy saat berangkat. 


Sesuai dengan jadwal yang saya dapatkan sebelumnya, hari ini adalah hari H pelaksanaan Seleksi Kompetesi Dasar (SKD) yang dilaksanakan di gedung LP3 Universitas Negeri Surabaya. Ditemani dengan motor kesayangan, akhirnya saya memberanikan diri untuk bertualang, mengingat jalan:D

 

Petugas masih memasang pc

Jalanan, tentu saja ramai dengan para pengendara yang berangkat kerja, tak tertinggal truk-truk besar menemani beriringan. Sebelum tes, saya dengan seorang teman sudah survey lokasi yang dituju, berharap nanti saat berangkat sendirian tidak bingung untuk meninggat jalan. Namun kenyataanya, masih juga saya kesasar, meskipun sudah mengatur google map dengan tujuan yang sama. Saya menyimpan hp di kantong jaket tanpa headset, mungkin itu yang menjadi penyebab utama kenapa saya berjalan di jalan yang berbeda, meski hanya sebentar saja:D. 


Sekitar pukul 8.30 WIB saya tiba di lokasi. Tampak beberapa peserta berpakaian putih hitam sedang duduk-duduk menunggu giliran tes.  Saya memutuskan untuk Istirahat sebentar, tidak lama kemudian waktu berkumpul untuk pengecekan berkeas dilakukan, meskipun jadwal tes masih lama,  pukul 10.30). Alhamdulillah saya tidak telat.


Para peserta tes dilarang memakai ikat pinggang, anting, gelang, kalung, cincin, bros untuk kerudung (atau yang mengandung bahan logam lainnya). Jadi, untuk para peserta perempuan, pastikan kamu memakai peniti atau jarum yang bisa digunakan di dalam ruang tes (hindari menggunakan bros saat mengaitkan kerudung pada dagu). Jika tidak, maka kerudung akan diikat sekedarnya saja karena panitia tidak menyediakan peniti cadangan.

Selesai tes, langsung balik ke Gresik

Waktu berlalu, satu persatu peserta memasuki area untuk tes. Saat survey lokasi, area tes masih dalam proses pemasangan PC dan perkabelan lainnya. Sehingga sedikit ada gambaran bagaimana letak lokasi untuk tesnya (meskipun saat itu diusir pak satpam karena masuk area terlarang:D). Jangan khawatir, jika kamu lupa membawa pensil untuk menghitung, panitia meminjamkan pensil untuk sementara waktu. Selain itu, panitia juga menyediakan kertas buram untuk menghitung.


Pengerjaan soal tes kurang lebih 1 jam 40 menit, dan waktu berlalu seperti cepat saja karena dihadapkan pada soal-soal yang harus diselesaikan jawabannya. Ini kali kedua sebenarnya saya mengikuti tes CPNS. Tahun lalu tes CPNS diadakan di Wahana Ekspresi Pusponegoro, Gresik. Berbeda sekali karena tahun ini, prokes lebih ketat daripada sebelumnya. Pada tes ini beberapa berkas yang dibawa antara lain kartu ujian, kartu tanda pengenal (KTP/SIM yang digunakan saat mendaftar), sertifikat vaksinasi/surat vaksinasi, dan bukti tes swab (antigen/pcr). Untuk berkas yang dibawa, lebih sedikit jika dibandingkan tahun lalu.


Tes SKD di Universitas Negeri Surabaya diadakan pada tanggal 29 September 2021